JEMARI KECIL

    
Source: Pinterest

Sepoi angin seakan mengajak bersahabat sore itu. Jejeran gigi dipamerkan membentuk tawa, mewakili suasana hati pemiliknya. Binar dua pasang mata menebar kebahagiaan pada siapa saja yang melihatnya. Kegiatan ini sungguh menyenangkan ayah dan anak itu, jajan di warung Bang Ujang.

Sebungkus kue coklat dan air mineral gelas di genggam erat si Anak, Ayahnya pun tak mau kalah dengan menyelipkan sebungkus rokok di saku kemejanya. Dengan motor, mereka pun pulang ke rumah sambil bersenandung ringan. Sungguh bahagia begitu sederhana. 

Tiba di rumah mereka duduk di bangku teras. Masih dengan sepoi angin yang setia menemani. Dalam si Ayah menyesap rokok yang tadi di beli sambil dipandanginya halaman rumah. Bola matanya menunjukkan jauh pikirannya telah berkelana. Entah apa yang dipikirkan Ayah yang hampir menginjak kepala empat itu. 

Tersadar, Ayah berleher jenjang tersebut tersentak melihat pemandangan di sebelahnya. Kaki duduk bersila. Sedotan terselip diantara jari tengah dan jari telunjuk kecilnya, sedetik kemudian sedotan sudah bertengger mantap diantara kedua bibir mungil itu. Menghisap. Tanpa disadari, bocah di sampingnya, yang kalau bicara pun masih sulit ditangkap maksudnya, sedang berpantomim, berlagak mengimitasi apa yang dilakukan ayahnya. Persis.

Sudut bibir bocah itu tertarik keatas mendapati ayahnya memperhatikannya. Senyum polos tersungging bangga bisa menirukan ayahnya. Seketika si Ayah mematung. Terpaku menatap wajah anaknya. Tenggelam kembali dalam samudera pikirannya, namun jelas yang dipikirkan berbeda pra dan paska menyaksikan pemandangan menohok sanubari. 

Sejumlah detik kemudian lelaki itu beralih kembali ke dunia nyata. Dipadamkan semburat oranye pada ujung puntung dan diterbangkan batangan kecil yang tinggal setengah itu melambung dan mendarat tepat di tong sampah berjarak selusin langkah. Benar-benar pendaratan sempurna (yang kebetulan). 

Ditarik lembut sedotan dari jemari kecil itu, dicobloskan hingga ke dasar wadah. Dalam disedot air mineral itu hingga sisa seperdua isinya. Lalu di tenggerkan pada bibir mungil berharap diteladani. Bola mata pemilik bibir mungil membesar. Heran. Namun bibirnya menunjukkan dia telah menangkap pelajaran. Kosong. Air itu telah bermigrasi ke tubuh batita itu. 

Tanpa kata si Ayah berusaha merevisi, tanpa bertanya si anak berusaha memahami, tanpa dialog, mereka kembali mengisi sore itu dengan senyuman. Dan sejak saat itu batang-batang candu itu pensiun menemani sisa hidup si Ayah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALUS 2.2